Tukang Surat jadi Ketua

boss
sumber: http://tx.english-ch.com/

Sudah hampir dua tahun Saya menjabat sebagai ketua Karang Taruna. Jabatan tersebut adalah kali pertama Saya berada di strata teratas Steering Commitee suatu organisasi.

Saya yakin, keputusan tersebut; menjadikan Saya seorang ketua, adalah karena tidak ada lagi yang bisa ditumbalkan. Atau paling tidak, hanya Saya orang yang tidak bisa menolak.

Pemekaran Rukun Warga

memotong-pizza
sumber: satriabajahitam.com

Berawal dari dipecahnya teritori RW 04 menjadi dua bagian; yakni menjadi RW 04 dan RW 017, karena, mungkin, sudah terlalu berjubel penduduk sehingga pengadministrasiannya terlalu ribet untuk terus disatukan …

… otomatis sistem pemerintahan mulai diperbarui dan dibentuk kembali dari awal. RW, RT, DKM, Posyandu, PKK, dan tentu Karang Taruna.

Rumah Saya sendiri masuk ke teritori ke-RW-an 04.

Ketua RW yang menjabat sebelumnya, kebetulan juga masuk ke teritori tempat tinggal Saya. Jadi, putusan musyawarah adalah tidak mengganti ketua RW. Biarkan beliau melanjutkan pusingnya.

sumber: https://jcdickerson.wordpress.com
sumber: https://jcdickerson.wordpress.com

Sementara eksekutif-eksekutif di bawahnya dirombak sedemikian rupa dengan mempertimbangkan latar belakang pekerjaan dan keahlian; tidak lupa juga pertimbangan mengenai waktu luang.

Iya, waktu luang.

Menjadi eksekutif kampung seperti RW atau RT harus punya waktu lebih lama bercengkrama dengan masyarakat, atau paling tidak …

… saat warga butuh, beliau-beliau ada di rumahnya.

Karang Taruna yang Asing

sumber: http://cdn.slashgear.com/
sumber: http://cdn.slashgear.com/

Saya tidak ikut di organisasi Karang Taruna yang sebelumnya. Males. Lagipula kegiatannya hanya pas mau 17 Agustusan saja.

Jadi secara pengalaman, Saya tidak menahu apa-apa tentang organisasi Karang Taruna. Apa saja visi-misi, tugas pokok dan fungsi, alur kaderisasi, dan si si lainnya.

Yang Saya tahu hanya sekumpulan pemuda hanya sibuk menjelang tanggal 17 Agustus toSudah sampai di sana.

sumber: https://naningisme.wordpress.com/
sumber: https://naningisme.wordpress.com/

Males yang Saya rasakan bukan karena keengganan untuk bergerak membantu, tapi ada semacam penyakit sosial yang menjangkiti organisasi tersebut saat itu.

Iya, maaf kalau misalkan bahasanya kurang pas.

Tapi yang Saya rasakan saat itu, Karang Taruna tidak bisa merangkul semua pemuda yang berada di wilayah ke-RW-an; hanya sebagian, itu pun bagian kulon saja.

Pemuda-pemuda wetan tidak terperhatikan. Malah kadang-kadang, pemuda wetan bersama Madrasah yang kebetulan berada di sana juga, membuat acara 17 Agustusan sendiri. Terpisah.

Mungkin itu juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan dibelahnya teritori di lingkungan Saya. Ketaksepahaman dan ketakseragaman.

Pemilihan Ketua Karang Taruna

sumber: http://static.tumblr.com/
sumber: http://static.tumblr.com/

Singkat cerita, perangkat pemerintahan inti sudah terbentuk. Tinggal satu saja yang belum dibentuk, yakni Karang Taruna dari divisi kepemudaan.

Saat itu, kalau Saya tidak lupa, ada surat yang mesti disebar ke seluruh warga. Kebetulan hari itu Saya sedang tidak ada kegiatan –dan biasanya juga tidak ada, pft-, jadi ya … yang kirim surat, Saya.

Saya lupa tepatnya berapa, surat yang tersebar dengan susah payah. Susah payah karena ada yang pintunya terkunci, telinganya tuli, pagar rumahnya jauh dari pintu, dll.

Saya singkat lagi ceritanya.

Pada hari yang ditentukan, warga mulai memasuki arena pemilihan. Sistem pemilihannya voting langsung.

Jujur, Saya ragu untuk menghadiri rapat warga itu. Males. Sedang ada kerjaan –cie ada kerjaan- update status di anu … fanspage.

sumber: http://www.prelovac.com/
sumber: http://www.prelovac.com/

Ada rasa tidak enak. Setelah akhirnya menimbang prioritas dan status dari rapat ini penting atau tidak, akhirnya kaki Saya melangkah juga menuju ruang rapat (madrasah) meski pelan-pelan. Tujuannya sih hanya ingin melihat proses saja.

Tapi malapetaka terjadi. Sialnya, pemuda yang hadir bisa dihitung jari. Maksudnya, yang masih sekolah/kuliah.

Ini mispersepsi sebetulnya. Dalam teori, pemuda itu adalah semua orang yang memiliki umur 17 – 35 tahun, kalau tidak salah.

Tapi di hari itu, yang termasuk kategori pemuda hanya mahasiswa saja. Alamakjang!

Maka dipilihlah nominasi ketua dari A sampai C; 3 orang.

Kedua orang lainnya sahabat Saya, yang jelas … mereka lebih tua.

Tapi entah kenapa suara yang diucapkan warga selalu, “Mulkan”. Bahaya sekali. Sempai mau kabur, tapi malu dengan jenggot.

Mungkin iya, jenggot penyebab mereka memilih Saya. Kesannya wibawa, gitu? Haduh!

Hasil rapat kemudian menghasilkan, si tukang surat akhirnya menjadi ketua Karang Taruna, yang sampai hari ini tidak pernah merasa menjadi ketua dan berbuat banyak.

Itu pula yang mendasari Saya ikut mendaftar ke Pesantren Sintesa. Saya ingin memajukan kampung Saya. Utamanya agar para pemuda native, tidak pergi ke mana-mana setelah lulus sekolah. Tapi berkarya di kampung halaman.

Mari sama-sama.

Gitu.

Apa Komentarmu?