satriabajahitam.com - mahasiswa unpad 5

Lebih Ngunpad dari Mahasiswa UNPAD

Mundur beberapa waktu lebih jauh dari posting-posting sebelumnya. Kali ini adalah cerita saat Saya masih duduk di bangku SMK.

Sudah menjadi rahasia umum bila siswa SMK, pada semester-semester akhir, melaksanakan program PKL (Praktik Kerja Lapangan). Sebagian sekolah menyebutnya PraKerIn (Praktik Kerja Industri). Sama saja.

Saya kira, program seperti ini bagus sekali. Mengenalkan siswa pada dunia yang sesungguhnya. Di mana saling sikut antar pegawai demi jabatan itu jadi tontonan yang menarik untuk disimak dengan seksama. Mengenal deadline, yang seringkali terlihat seperti pasukan Fir’aun ketika mengejar Musa as.

Siswa juga akan tahu bagaimana pusingnya bergerak di bawah telunjuk orang lain. Hikmahnya adalah –bagi siswa yang berpikir saja, sih- mereka akan tahu bagaimana sulitnya menjadi orang tua yang membiayai mereka sekolah.

Banting tulang, peras keringat, pasang badan, menahan lapar dan kantuk. Iya, agar anaknya sekolah.

satriabajahitam.com - mahasiswa unpad 1
sumber: tango.image-static.hipwee.com

Harapan mereka hanya satu: Anaknya harus bisa lebih sukses daripada dirinya.

Jadi harusnya, sebakda PKL siswa mulai berpikir buka usaha. Jadi kepala ular daripada jadi buntut naga; menjadi telunjuk, bukan ditunjuk. Sepakat? Harus! Haha.

Saya adalah salah satu orang yang –Segala Puji Bagi Allah- terbesit pemikiran seperti itu. Makan hati kalau terus-terusan disuruh. Saya tidak suka.

Tapi tidak semua orang seperti Saya. Dan itu sah-sah saja. Tidak semua orang ingin berwirausaha. Dan itu boleh, kok. Kalau semua jadi pengusaha, terus siapa yang kerja di perusahaan Saya. Pft.

Serius. Setiap orang sudah ada jalan kesuksesannya masing-masing. Yang harus diperhatikan adalah agar bagaimana pekerjaan atau usaha yang digeluti tidak memburukkan pribadi dan menjauhkan diri dari Tuhan yang memberi rezeki.

Itu saja.

Kembali ke topik. Sewaktu SMK, Saya memilih UNPAD sebagai tempat PKL, tepatnya di DCISTEM; Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bertindak sebagai admin jaringan internet di seluruh UNPAD.

Sebagian pegawai DCISTEM juga sering ditunjuk sebagai panitia SNMPTN/SBMPTN, itulah sebabnya foto-foto sample yang digunakan sebagai panduan untuk peserta saat mendaftar, banyak yang Saya kenal. Hehe.

DCISTEM menjadi pilihan karena dipastikan ketika Saya magang di sana, akan banyak ilmu yang Saya dapatkan.

satriabajahitam.com - mahasiswa unpad 2
sumber: photos1.blogger.com

Saya jurusan TKJ. DCISTEM bergerak di segmen yang sama, selain juga ada bagian khusus RnD (Research and Develovment) yang bergerak di bidang pemutakhiran website dan aplikasi kemahasiswaan. Saya tidak masuk ke ranah itu. Pusing.

Saya berangkat bersama empat orang rekan dari dua kelas yang berbeda.

Menyampaikan Surat Tugas

Saya kurang ingat namanya surat apa, mari anggap saja itu surat tugas.

Sekira pukul lima pagi kami sudah siap siaga. Tempat pertemuan kami berlima ditentukan di terminal Indihiang, Tasikmalaya.

Diiringi kokok ayam, Saya bersiap. Tidak banyak membawa barang. Hanya nyali saja yang dibuat matang.

Singkat cerita, pukul 09:00 Saya dan rekan sudah sampai di gerbang samping UNPAD Jatinangor. Di perjalanan, kami tidur, tidak ada yang harus diceritakan.

Bismillaah.

Kami semua melangkahkan kaki memasuki kompleks universitas.

Gila! Besar sekali kampus ini. Meskipun pernah diceritakan kakak kelas tentang luasnya, tapi melihat dengan mata kepala sendiri sungguh berbeda.

Jarak gerbang sampai Gd. Biru, kantor pegawai UPT DCISTEM, sekira membutuhkan waktu 10 – 15 menit berjalan kaki. Jauh sekali. Serius.

Saya kasih tahu, saking luasnya, UNPAD ini punya angkot dalam kampus untuk mahasiswa. Gratis pula. Kenapa Saya tahu kalau itu gratis? ‘kan dikasih tahu sebelumnya oleh kakak kelas.

satriabajahitam.com - mahasiswa unpad 3
sumber: 1.bp.blogspot.com

Jadi ceritanya, UNPAD ini menjadi langganan sekolah kami dalam urusan magang-memagangkan siswa. Track record sekolah kami bagus, jadi kemungkinan diterima besar sekali. Tapi sayangnya, PKL di UNPAD ini tidak digaji. Huft.

Dengan semangat mulia kami tetap melangkah. Mencari ilmu. Iya, mencari ilmu.

Saat itu kami, dengan wajah tanpa dosa, naik ke dalam salah satu angkot. Berlagak sebagai mahasiswa kami katakan ke supir, “Pak, Gedung Biru.”

Diantarkanlah kami ke Gedung Biru yang cat temboknya dominan warna putih. Meskipun ada biru-birunya. Persentasenya 65% : 35%.

satriabajahitam.com - mahasiswa unpad 4
sumber: jatingangorku.com

Kami masuk. Ternyata, Gedung Biru ini sama-sama ruang perkuliahan. Banyak mahasiswa yang bergumul saat itu. Dalam hati, “Oh, ini mahasiswa. Cantik.”

Kami tidak mengambil foto mereka. Itu tidak penting dan bukan urusan kami datang ke sana.

Melihat satpam yang sedang asik merokok, kami menghampirinya dan meminta untuk diantarkan sampai ke kantor DCISTEM. Lalu, kami diantarkan sampai depan pintu.

Dianggurkan

satriabajahitam.com - mahasiswa unpad 6
sumber: ke-state.edu

Kami memberanikan diri masuk. Terlihat di sana ada kakak kelas yang sudah ditarik jadi pegawai. Sampai hari ini pun, 2016, beliau masih betah bekerja di sana.

Kami disambut dan dipersilakan duduk. Kemudian kami utarakan maksud dan tujuan datang ke tempat mereka.

Kami sampaikan surat tugas tadi. Saya tidak ingat. Tapi kalau tidak salah, di surat yang diberikan sekolah sebagai pengantar itu ada form pernyataan diterima/tidak.

Mereka meminta waktu sebentar untuk merundingkan. Sebentar yang tidak sebentar.

Pada awalnya kami diajak ngobrol oleh kakak kelas tadi, tapi beberapa waktu kemudian ada trouble yang harus diselesaikan. Jadi dia pamit bertugas. Setelah itu, kami dianggap butiran debu.

Ya sudah, kami hanya duduk, buka tutup HP tidak jelas.

Kelucuan Hari Itu, Esok, dan Seterusnya

Dianggurkan sekira tiga jam sampai menjelang dzuhur. Akhirnya Pak Opik, entah apa jabatannya yang jelas dia punya kursi empuk dan berputar –wih-, datang menghampiri kami.

Lalu dengan sedikit tertawa membela diri dia berkata, “Aduuuh, suratnya tadi di mana ya. Saya lupa.”

satriabajahitam.com - mahasiswa unpad 7
sumber: etc.usf.edu

Dalam hati Saya bergumam, “Lha, kirain tadi berunding. Terus dari tadi ngapain aja?”

Mulai dari sana, suasana ketegangan yang tadi sempat menggelayut mulai berjatuhan. Begini ternyata kalau orang sunda, suka bercanda. Hal serius saja dibercandakan. Jadi keputusannya bagaimana?

Keputusannya begini …

“Kalian secara lisan sudah kami terima. Minta lagi saja suratnya, ya, sama sekolah. Bilang saja hilang.”

Parah memang.

Tapi, kejadian itu mempersempit jarak antara peseta magang dan pegawai. Sampai di hari-hari berikutnya, tiada hari tanpa bercanda. Seperti halnya tiada hari tanpa disuruh. Entah itu pekerjaan penting atau sekadar menyeduh kopi.

Tidur, Makan, Mandi, Mencuci, bahkan Menjemur Pakaian di Tempat yang Sama

satriabajahitam.com - mahasiswa unpad 8
sumber: dcpender.files.wordpress.com

Salah satu faktor yang membuat kami lebih ngunpad dari mahasiswa UNPAD adalah daily activity yang biasa dilakukan mahasiswa di rumah  atau di kost, kami lakukan di Gedung Biru.

Kami biasa mandi pagi pukul 06:30 atau lebih pagi sebelum mahasiswa datang; dan malam hari setelah mahasiswa pulang.

Kami biasa mencuci hari minggu di toilet sama, dengan yang kami gunakan saat mandi. Toilet mahasiswa.

Dan yang agak sedikit ekstrim adalah menjemur pakaian di semak-semak samping Gedung Biru. Meskipun hari minggu, mahasiswa kadang-kadang datang ke kampus. Mungkin kegiatan organisasi.

Jadi, pakaian dalam yang kami jemur itu sering jadi penghibur tersendiri bagi mereka, mungkin.

Pokoknya, saat itu, UNPAD serasa milik sendiri.

Proyek Besar

Saya akan langsung bercerita tentang faktor lain yang membuat kami lebih ngunpad dari mahasiswa UNPAD.

Saat kami PKL di sana, UNPAD sedang ada upgrade fasilitas internet. Semua tembaga pembawa data internet diganti fiber optic.

satriabajahitam.com - mahasiswa unpad 9
pict: koleksi pribadi

Samping jalan kampus UNPAD digali, kemudian ditanam kabel fiber optic. Kami sebagai apa di sana?

Kami sebagai pengukur kedalaman, sudah cukup dalam dan sesuaikah galian yang dilakukan pekerja. Galiannya sedalam satu meter, kalau tidak salah. Maaf Saya banyak lupa.

Juga kami bertindak sebagai pengukur jarak, berapa panjang parit yang digali pekerja di seluruh UNPAD, untuk kemudian dilaporkan segabai bahan pertimbangan berapa kabel fiber optic yang dipesan. Sepertinya begitu.

Kegiatan itu membuat kami menyusuri seluruh sisi luar UNPAD. Saya ingin bertanya, adakah mahasiswa yang sengaja berkeliling UNPAD? Maksud Saya, sampai ke tempat-tempat paling sempit?

Saya rasa tidak. Jadi siapa yang lebih ngunpad? Kami dong!

Tapi kalau ada mahasiswa yang melakukan hal demikian, tunggu dulu. Jangan senang dulu.

Setelah selesai dengan UNPAD bagian luar dan kabel fiber optic utama juga telah selesai ditanam, sekarang saatnya memasang perangkat-perangkat keras untuk menghubungkan koneksinya.

Tugas kami? Bor dinding di setiap fakultas, jurusan, untuk memasang kotak hitam –Saya lupa namanya- dan menaruh switch di dalamnya.

Tidak hanya di tempat publik, maksud Saya, tempat yang biasa dilalui mahasiswa. Kami juga masuk ke asrama mahasiswa lokal dan mahasiswa internasional.

Saya ingat ketika masuk ke asrama mahasiswa india. Hih.

Kami juga pernah ke kamar mayat fakultas kedokteran. Ke hutan belakang UNPAD yang –Gila- luas sekali. Ada banyak ladang di sana. Mungkin untuk praktik mahasiswa pertanian dan peternakan.

Ada juga kolam besar, kalau ini mungkin untuk mahasiswa perikanan.

Jadi siapa yang lebih ngunpad? Kami dong!

Maaf, ya.

Rektorat UNPAD

satriabajahitam.com - mahasiswa unpad 5
sumber: 2.bp.blogspot.com

Ada keringat kakak kelas kami di gedung yang sering kalian jadikan background foto itu.

Siswa PKL sebelum kami tugasnya ikut membangun rektorat UNPAD Jatinangor yang mirip koloseum, memasang jaringannya sehingga semua terfasilitasi.

Mari ucapkan terimakasih.

1 thought on “Lebih Ngunpad dari Mahasiswa UNPAD

Apa Komentarmu?