Ngamen Makna: Kau Jauh Agar Aku Rindu [Letto – Ruang Rindu]

Assalaamu’alaykum, pencari.

Digerakkan oleh rasa bosan dan jemu, akhirnya saya izin pada diri untuk menuliskan lagi sesuatu yang datang ke dalam pikiran. Tidak ada deadline, hanya mengisi lubang dalam hidup yang sempat dicerabut (atau tercerabut?) tempo lalu.

Kepalaku sudah menuju usang. Dibanjiri oleh kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat lem ingatan tak sanggup merekat dengan baik. Saya menjadi pelupa. Ya, itu masalah besar. Seperti tidak ada lagi yang bisa kuingat dari tumpukan buku di dinding kamar. Padahal masih muda dan ganteng. Sudah, ah.

Saya akan mulai menuliskan makna-makna dari lagu yang memang sengaja didengar dan dicari maknanya sampai ke lagu-lagu yang tak sengaja masuk kuping tapi nyangkut di hati. he he.

Pertama, lagunya Letto – Ruang Rindu.

Barangkali bagi plettonic (sebutan ilegal untuk penggemar letto, karena letto tidak punya fans! Bahkan arti letto sendiri mereka serahkan sepenuhnya pada siapa saja yang ingin menafsirkannya) menelisik lirik-lirik dari band ‘sufi’ ini bukanlah hal yang aneh. Bahkan mungkin menjadi syarat sah mendengarkan lagu letto. Kalau gak ditelisik liriknya, ‘kafir’ koe! Ha ha.

Baca Juga: Biografi Cak Nun (Inspirasi Letto)

Anda boleh memasukkan video klip sebagai variabel dari hakikatnya. Itu hakmu. Tapi bagiku, persetan dengan video klip yang kebanyakan mengganggu. Ups.

Lirik Lagu Letto – Ruang Rindu

Begini lirik lagu Letto – Ruang Rindu

di daun yang ikut mengalir lembut
terbawa sungai ke ujung mata
dan aku mulai takut terbawa cinta
menghirup rindu yang sesakkan dada

jalanku hampa dan kusentuh Dia
terasa hangat, oh di dalam hati
kupegang erat dan kuhalangi waktu
tak urung jua kulihat dia pergi

tak pernah kuragu dan selalu kuingat
kerlingan mataMu dan sentuhan hangat
ku saat itu takut mencari makna
tumbuhkan rasa yang sesakkan dada

Kau datang dan pergi, oh begitu saja
semua kuterima apa adanya
mata terpejam dan hati menggumam
di ruang rindu kita bertemu

Makna Lagu Letto – Ruang Rindu

Key, apa yang saya tulis di sini berdasarkan pengalaman perjalanan diri saya sendiri. Bila anda tidak sependapat, ya … tidak apa-apa. Saya tidak harus sependapat dengan anda, begitupun anda tidak harus sependapat dengan saya. Adil, kan? He he.

Bait ke-1

di daun yang ikut mengalir lembut
terbawa sungai ke ujung mata
dan aku mulai takut terbawa cinta
menghirup rindu yang sesakkan dada

Di sini Letto mengajak kita agar tidak merasa berkehendak atas kehidupan kita masing-masing. Kembali ke titik nol. Di mana kita semua terombang-ambing. Tidak berkuasa.

Apakah kita adalah daun atau apakah kita entitas lain yang ada di atas daun itu, ketika Letto menuliskannya dengan ‘di daun yang ikut mengalir lembut’?

Kalau saya sepakat dengan diri sendiri: kita adalah entitas lain yang ada di atas daun.

Entah itu semut, kumbang, ulat, tungau, atau debu sekalipun. Ya, kita di aliran kehidupan ini adalah entitas kecil tak terlihat yang ikut mengalir di daun yang bernama hidup. Sedangkan aliran air adalah kehendakNya; lembut adalah sifat RahmanNya.

Mau terombang ke kanan, terambing ke kiri, terserahNya sajalah. Namun yang harus kita usahakan adalah mengamati pemandangannya. Menikmati semuanya. Membaca tanda-tanda.

Kita terus diperjalankan di atas kehidupan ini sampai jauh. Sampai ujung mata memandang. Tak terlihat. Meninggalkan kefitrahan ‘aku’ saat masih orok.

Sampai cinta tumbuh akibat dari rindu yang terus memupukinya. Semakin jauh diperjalankan, semakin jelas tandaNya; jelas pula dalam diri kita adalah sesuatu yang hilang. Sesak, kesucian kita telah terlapisi dosa-dosa. Jadi berlubang dan perlu sesuatu untuk mengisinya.

Bait ke-2

jalanku hampa dan kusentuh Dia
terasa hangat, oh di dalam hati
kupegang erat dan kuhalangi waktu
tak urung jua kulihat dia pergi

Perjalanan kita meninggalkan kesucian tentu berarti pula meninggalkan cahaya. Ketiadaan cahaya membuat siapapun hampa. Lubang di dalam hati semakin besar. Keadaan makin temaram. Terombang-terambing dalam gelap.

Perjalanan apapun menjadi tidak berarti bila yang kau inginkan hanya kembali. Ingin bersicepat sampai karena rindu telah kadung sesak. Sangat menyesakkan.

Tapi bukankah malam yang paling gelap justru adalah malam yang paling dekat dengan fajar? Inilah dia saatnya menebus rindu pada Sang Maha.

Lalu kau sentuh Dia, Allah, Tuhanmu; pemilikmu, pengaturmu, pemeliharamu. Kau sentuh Dia dengan segala indera; tanganmu, perasaanmu, nafasmu, meditasimu. Sampai-sampai kau merasa sangat dekat. Seluruhmu meluruh. Tidak ada lagi aku dan Engkau. Aku adalah 0 dan Kau adalah tunggal.

Tapi iman memang naik-turun. Nabi pun langsung beruban ketika wahyu turun padanya dengan perintah fastaqim! ‘Bertetap-tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar) …’ (QS. Hud: 112). Pendapat ini menurut Prof. Doktor Falih, menggambarkan begitu berat sekali untuk terus bisa mesra, berdekatan, berdekapan dengan Allah.

Walau telah kau coba berbagai cara untuk menghalangi waktu agar tak beranjak dari saat-saat indah itu. Mau tidak mau, tak urung jua kulihat Dia pergi. Bukan Dia meninggalkan, tapi kita kembali menjauh.

Bait ke-3

tak pernah kuragu dan selalu kuingat
kerlingan mataMu dan sentuhan hangat
ku saat itu takut mencari makna
tumbuhkan rasa yang sesakkan dada

Ini adalah perjalanan baru. Pertemuanmu denganNya saat itu membekas kenangan. Hingga jarak tidak lagi kau sesali, melainkan kau syukuri. Sebab kenikmatan makan adalah ketika kita lapar; kenikmatan tidur adalah ketika kita mengantuk; maka kenikmatan dari bertemu adalah ketika kita rindu.

Baca Juga: Makna Lagu Letto – Sebelum Cahaya

Dan rindu tidak akan pernah ada bila kau tidak berjauhan. Kita rindu padaNya karena kita sedang jauh. Dengan meyakini bahwa Dia akan selalu ada dalam ingatan, akan menjadikanmu ihsan. Kerlingan mataNya tetap mengawasimu, bilapun kamu tak merasakan kehadiranNya.

Namun perjalanan baru ini belum benar-benar masak. Belum sampai dirimu pada makrifat. Mencari-cari makna hanya membuat dada kita sesak, tapi itu harus dilakukan sampai kita tahu maksudNya.

Bait ke-4

Kau datang dan pergi, oh begitu saja
semua kuterima apa adanya
mata terpejam dan hati menggumam
di ruang rindu kita bertemu

Perjalanan terakhir. Dirimu yang telah bisa bermakrifat. Memahami dengan seluruh, maksud ketidakhadiranNya di waktu-waktu tertentu.

Kau mau datang-Kau mau pergi, itu adalah kehendakMu. Kau mau jauh-Kau mau dekat, itu adalah kehendakMu. Aku sebagai hamba hanya bisa menerima apa adanya, menerima dengan lapang dada bahwa … Kau jauh untuk menciptakan rindu di kenikmatan pertemuan. Kau dekat untuk menciptakan kemesraan.

Aku hanya perlu untuk memejamkan mataku sembari terus bergumam, berdzikir, hingga kita kembali di pertemukan … di ruang rindu. Allahku.

Apa Komentarmu?