Ngamen Makna: Muhammad Ada dalam Diriku (Letto – Menyambut Janji)

Shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Masih dalam suasana mawlid Nabi. Entah kenapa beberapa hari ini kami terpikirkan lagu letto – kepastian hati. Sejak pertama kali mendengarkan, ada beberapa diksi dari liriknya yang muskil kami urai entah kenapa. Kata-kata itu adalah lembaran putih dan lingkaran putih.

Ya, walaupun ini adalah tafsir versi kami saja, tapi anda berkah mendapatkan tafsir terbaik. kha kha kha.

Lalu tetiba saja, gegara membaca buku tentang Rasul kami; Muhammad saw., terbesit sebuah tanya yang kami ingin anda menjawabnya. Begini …

Pertanyaan ke-1:

Bayangkan anda adalah seorang pemalu, tapi anda disuruh untuk mengajak orang lain menyanjung dan mengakuimu tegas-tegas dari mulai hati, ucapan, dan perbuatan bahwa kamu adalah yang terhebat, misalnya. Piye piye perasaanmu?

Nah, kami menjadi merasa perlu untuk membayangkan diri kami di posisi Nabi Muhammad kala itu. Sejarah kehidupannya tercatat detail sekali. Hikayatnya … Muhammad, bahkan sebelum digelari Al-Amin oleh penduduk Makkah, telah mempunyai perangai yang cantik sekali.

Dia adalah pemalu, sampai-sampai istrinya Abu Thalib berkata, “Dia lebih pemalu dibanding gadis pingitan.”

Muhammad senang menyendiri bertafakkur di padang lepas bersama domba-domba gembalaannya. Rendah hatinya, mulia akhlaknya, luhur budi pekertinya, dan tidak ingin membebani orang lain termasuk keluarga pamannya.

Itulah alasan kenapa beliau saw. menggembala: tidak ingin membebani paman Abu Thalib dan bibi Fathimah.

Keluhuran budinya juga terlihat ketika di meja makan. Ketika bibi Fathimah menyajikan makanan-makanan, Muhammad selalu mengalah dari sepupunya yang lain–yang saling berebut makanan karena lapar dan makanan sedikit-; dia tidak mengulurkan makanan ke nampan.

Rasa malu, sikap hormat, kesucian jiwa, dan kelapangan hati itu terbawa sampai Muhammad mendewasa mendapatkan wahyu.

Pertanyaan ke-2:

Kira-kira bagaimana perasaan Muhammad yang pemalu, tidak ingin membebani orang lain, rendah diri dan rendah hati, ketika tiba-tiba mendapatkan wahyu dari langit; disuruh Allah  menyeru penduduk Makkah, bila ingin selamat dari marabahaya dan siksa, harus bersyahadat: mengakatan kau Muhammad adalah utusan Allah? Gimana ya?

Seakan-akan Rasulullah saw. menginginkan penghormatan, pengakuan dari orang lain, penyanjungan, dll. padahal tidak sama sekali. Itu hanyalah perintahNya. Dan Muhammad harus melakukan itu semua. Piye piye?

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad. Tugasmu sudah berat bahkan sejak dalam pikiran.

Lirik Letto – Menyambut Janji

kumenanti sang Kekasih
dalam sunyi ku bersuara lirih
yang berganti hanya buih
yang Sejati tak akan berdalih

Lembaran putih terlah terpilih
dan demi cinta …

kutepiskan semua keraguan jiwa
dan kuganti dengan kepastian
hatiku ini yang mulai mengerti dan berani
tuk menyambut janji

kisah cinta yang abadi
takkan ada jika tak kau cari
sering juga hanya mimpi
yang membuatku bertahan di sini

lingkaran putih telah terpilih
dan demi cinta …

kutepiskan semua keraguan jiwa
dan kuganti dengan kepastian
hatiku ini yang mulai mengerti
dan berani tuk menyambut janji

Makna Lagu Letto – Menyambut Janji

Perkenankan kami memaknai lagu ini secara langsung, tidak bait per bait seperti di pemaknaan lagu sebelum-sebelumnya. Kami ingin berhikayat tentang kehidupan Muhammad mencari Tuhan, kekasihnya yang paling sejati.

Ketika mendengar Kumenanti sang Kekasih … dalam sunyi, ku bersuara lirih. Kami teringat bagaimana khalwatnya Nabi di Gua Hira. Menyendiri. Bersemedi. Bermeditasi. Bertafakkur terhadap dunia dan kehidupan. Barangkali pikirnya, “Dunia ini apa? Aku ini siapa? Bagaimana semua yang kulihat berada di sana? Siapa Tuhanku?”

Lalu kami ingat bagaimana ketika pendeta Buhairah memintanya bersumpah atas nama Latta dan Uzza, tetapi Nabi malah mencela keduanya seraya berkata, “Tidak ada yang lebih aku benci daripada mereka.”

Masyarakat Arab memang tahu ada Tuhan di sana. Tapi salah praktek. Mereka malah menghambakan diri pada patung-patung yang tidak dapat memberi manfaat kepada mereka maupun mencegah dari marabahaya.

Latta, Uzza, Manat, Hubal, hilang berganti. Rusak diperbaiki. Yang berganti hanya buih. Bukan Tuhan sejati, sebab yang Sejati tak akan berdalih. Bahkan mustahil untuk berdalih.

Baca juga: Biografi Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Kita tahu, ketika umur dua belas Nabi memaksa untuk ikut pamannya, Abu Thalib, ekspedisi bisnis ke Syam. Di sana dia bertemu pendeta yang tadi kami sebut; pendeta Buhairah. Seorang Nasrani monoteis yang, barangkali, hafidz Taurat dan Injil.

Di sana pamannya dikabarkan bahwa Muhammad akan menjadi orang besar, dia adalah Nabi yang diutus untuk ummat ini. Pamannya juga diwanti-wanti tentang orang Yahudi.

Kenapa pendeta Buhairah itu tahu? Sebab dia teguh memegang ajaran Nabi Isa as. dan telah tahu betul dari lembaran-lembaran putih, manuskrip Taurat dan Injil. Muhammadlah yang terpilih menjadi penyampai risalahNya yang terakhir.

Selain itu, pendeta Buhairah tahu dari khatim an-nubuwwah; stempel kenabian yang terlihat di antara pundak beliau. Menurut beberapa riwayat, bentuknya seperti telur merpati. Lingkaran putih? Sayangnya kami juga tidak tahu pasti. Ada riwayat mengatakan lemak, tahi lalat, warnanya hitam, warnanya merah. Ah, apalah arti warna tapi bila maknanya suci, bersih, jernih; putih? Biarkan kami menganggapnya putih saja. Muhammadlah yang terpilih menjadi kekasihNya.

***

“Selimuti aku … selimuti aku.” ucap Muhammad menggigil. Wajahnya pucat lesi seperti kapur. Khadijah sang istri setia lekas melipatkan selimut membungkusi badan suaminya. Muhammad ragu atas apa yang dilihatnya di Gua Hira. Sosok besar yang memenuhi ufuk ke mana pun dia memandang, siapa dia?

Setelah pulih ketenangan dan kuat bercerita, ia kisahkan apa yang dialaminya kepada Khadijah. Merasa perlu memastikan apakah yang dilihat Nabi itu setan atau malaikat; makhluk jahat atau buruk, Khadijah meminta Nabi untuk mengatakan padanya bila sosok itu hadir di bilik mereka.

Sejurus kemudian Nabi mengabari. Khadijah kemudian meminta Nabi untuk duduk bersender di paha kirinya, lalu paha kanannya. Tapi sosok itu tak juga pergi. Lalu, dalam beberapa hikayat, Khadijah membuka kerudung dan menutupi Muhammad dengan rambutnya. Kemudian sosok itu hilang.

Khadijah kemudian menguatkan dan berkata, “Berbahagialah, sepupuku! Ia bukan jin, bukan setan. Kuharap ia Malaikat. Kutahu kau orang baik. Kau tanggung beban berat […] Demi Allah dia tidak akan memperdayakanmu selamanya.” Khadijah berkata mantap, pasti.

Dari sanalah kemudian keraguan Muhammad berubah menjadi kepastian. Muhammad mulai mengerti tugasnya itu berat, meletihkan, membuat remuk seluruh badan. Tapi hatinya harus tetap kuat dan berani. Ada Allah. Ada yang telah menjanjikannya sesuatu yang tak terkira setelah ini. Muhammad … menyambut janji.

Muhammad tetaplah manusia. Ada saat-saat di mana beliau saw. sedih, marah, bahkan mungkin ingin menyerah. Tapi Allah selalu menyampaikan salam kasihNya (baik berupa kabar gembira atau teguran), wahyu-wahyu, firman-firmanNya dalam setiap mimpi. Dan sering, mimpi itulah yang membuat Muhammad sang Rasul tetap bertahan sampai akhir.

***

Kita sebagai ummatnya patut meneladani. Cinta pada Sang Sejati tidak terberi begitu saja. Apalagi cinta yang abadi, tidak akan pernah kau dapati hakikatnya bila terlupa akan perjalanan menuju diri. Contohlah Rasulmu. Menyendiri, menemukan cinta sejati. Sebab kisah cinta yang abadi, takkan ada jika tak kau cari.

Bila anda kurang berkenan dengan tafsiran ini … ya gak apa-apa. Kami menulis ini di dalam suasana mawlid Nabi, kami ingin berselawat dengan apapun yang kami bisa. Sebab kata Mbahnya Noe Letto, “Berselawat itu … ketika anda ingat Allah dan Muhammad, itu adalah selawat.”

Apa Komentarmu?