Jakarta, Ibukota Perjuangan

satriabajahitam.com - jakarta ibukota perjuangan 1
pict: koleksi pribadi

Selama Saya menjadi mahasiswa, ada sebuah keinginan untuk merasakan medan aksi, memperjuangkan hak-hak masyarakat yang dikebiri pemerintah tanpa sepengetahuan mereka.

Maka sebisa mungkin, Saya harus ikut organisasi yang punya track record aksi damai yang banyak. Keluar dari sofa nyaman kampus, turun ke jalan menyuarakan suara-suara rakyat.

Orasi adalah seni.

Silakan Kamu berpikir bahwa demonstrasi tidak ada gunanya. Hanya menghabiskan tenaga tapi tidak menghasilkan apa-apa.

Silakan Kamu berpikir bahwa demonstrasi adalah cara yang kolot, tidak mencerminkan intelektualitas, menganggu kenyamanan orang lain.

Tapi, adakah hal lain yang dapat membuka ikat pasung di kaki para pemuda selain jalan?

Oh, benar sekali, mahasiswa bisa melakukan audiensi; ngobrol bertatap-tatap dengan pengambil kebijakan yang bersangkutan. Di tempat sejuk ber-AC sambil makan-makan.

Menyelipkan haha-hihi di antara obrolan. Sungkem nunduk tanda penghormatan dan katakan, “Saya datang untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, pak.”

Bisa sekali.

Tapi sayang, pemimpin kita hari ini menganggap audiensi sebagai jalan cari aman dari amuk massa, lalu katakan, “Terimakasih, aspirasi masyarakat yang adik mahasiswa sampaikan, akan kami pertimbangkan.”

Lalu sudah, sampai di sana. Tindak lanjut yang dijanjikan seringkali tidak ditepati. Ketika difollow up, yang keluar hanya pernyataan, “Sedang kami proses.” Atau, “Sebentar, dik, ada urusan yang lebih mendesak.”

Atau malah, “Maaf, pak anu sedang ada urusan di luar kota.” kunjungan mahasiswa diterima petugas lain.

Itu sebagian contoh. Mungkin tidak semua alur kejadiannya seperti demikian. Tapi kenyataannya, banyak yang begitu.

Nah, lalu setelah itu apa lagi …

… apa lagi yang bisa diperbuat mahasiswa selain turun ke jalan?

satriabajahitam.com - jakarta ibukota perjuangan 2
pict: koleksi pribadi

Itulah alternatif lain yang paling mungkin dilakukan mahasiswa, bila telinga pemimpin kita tersumpal, maka pecahkan sekalian gendang telinga mereka. Agar diganti.

Tapi perlu dicatat, aksi bakar-bakaran adalah perbuatan yang kurang tepat. Demonstrasi itu pakai seni; bisa orasi, teaterikal, dll.

Itulah yang menjadi dasar Saya menaruh badan di organisasi KAMMI. Organisasi ekstra kampus yang berfokus pada isu-isu nasional-politik-pemerintahan dan menawarkan solusi berupa solusi Islam.

Dijebloskan ke Jalan yang Benar

satriabajahitam.com - jakarta ibukota perjuangan 3
pict: koleksi pribadi

Sebenarnya, keinginan untuk merasakan medan aksi yang disebutkan di atas, muncul setelah Saya masuk ke dalam lingkaran organisasi ini.

Organisasi yang Saya ikuti karena dijebloskan seseorang yang begitu menginspirasi sekali perjuangannya.

Setelah mengikuti proses kaderisasi yang lumayan panjang dan menguras hati, pikiran, bahkan air mata. Menciptakan perenungan yang mendalam bahwa, pemuda tidak boleh santai-santai saja.

Pemuda haruslah terus bergerak. Bahkan, saat kelelahan pun, katanya, yang mesti dilakukan pemuda bukanlah beristirahat, melainkan terus bergerak.

Teruslah bergerak sampai kaki kanan berada di pelataran Surga. Sebab, dunia dan bumi dihamparkan untuk manusia bertualang, buikan santai-santai aman dalam kandang.

Istirahat yang sebenarnya, nanti … di Surga.

Tapi akhirnya, orang yang menjebloskan Saya keluar dari organisasi karena harus fokus ke wirausaha dengan pertimbangan yang, menurut Saya, sangat-sangat matang.

Ya sudah. Itu keputusan beliau yang tidak bisa Saya ganggu gugat.

Saya tidak ikut beliau meninggalkan organisasi. Ada hal yang sudah mengikat hati Saya, yakni persaudaraan yang melibihi aliran darah.

Sampai sekarang, meskipun Saya sudah tidak kuliah, hubungan baik itu masih terjalin. Banyak inspirasi yang Saya dapatkan di organisasi ini, terutama dari Kang Rijal Wahid Muharram, yang sekarang menjadi guru, inspirator, sekaligus kakak Saya.

Seorang pendidik, musisi, trainer, dan penulis. Ini orangnya …

Beliaulah yang mengajari Saya agar tidak menyerah pada keadaan yang sulit dan bijak menyikapinya. Setiap geraknya mengajarkan produktifitas, perkataannya menginspirasi amal nyata.

Saya beruntung.

Aktualisasi Diri

satriabajahitam.com - jakarta ibukota perjuangan 4
pict: koleksi pribadi

Di KAMMI, Saya diajari tentang keikhlasan dalam berbuat, apapun. Sehingga tidak ada hal lain yang menjadi tujuan kecuali Allah swt.

Allahu Ghayatuna.

Sulit memang, ketika harus mengurangi unsur manusia kita. Tapi, di situlah nikmatnya perjuangan. Saling berbagi pundak untuk meringankan beban. Saling mengingatkan dan menguatkan satu sama lain.

Indahnya persaudaraan dalam bingkai Islam.

Tidak hanya itu, amalan sehari-hari Saya jadi ter-perhatikan. Puasa sunnah berjamaah tidak lagi menjadi hal yang asing. Sunnah dhuha, tahajjud, tilawah, bahkan baca buku pun kadang-kadang ada yang menyinggung, “Sudahkah?” katanya.

Saya juga diajari menjadi muslim yang moderat. Artinya, berjalan di tengah-tengah golongan yang berselisih paham tentang perkara-perkara kecil.

Lebih mengedepankan “Saya Islam.” tanpa embel-embel apapun. Saya tidak masalah dengan orang yang celananya cingkrang, seperti halnya sikap Saya terhadap orang yang tidak melaksanakannya.

Toleransi sesama muslim. Saling mencintai karena Allah.

Ada satu program, namanya Rumah Cerdas, kontennya adalah pelatihan-pelatihan penunjang skill yang bisa –in syaa Allah- dipakai di kehidupan sosial masyarakat.

Di sinilah awal mula Saya tertarik terhadap manusia dan segala gerak-geriknya. Sebab dengan mempelajari ilmu tentang manusia, Saya bisa dengan tepat bersikap ketika berinteraksi dengan mereka.

Hal tersebut sangat Saya butuhkan. Kenapa? Agar semakin banyak yang bisa Saya ajak pada hal-hal baik. Sampai sekarang Saya masih belajar. Susah sekali.

Tapi belajar itu … batas waktunya hanya liang lahat, kan?

KAMMI, organisasi yang memberi inspirasi.

Saya beruntung.

Memperjuangkan Hak Rakyat

Salah satu kegiatan KAMMI adalah aksi. Masyarakat lebih mengenalnya dengan demonstrasi. Tidak apa-apa, sama saja.

Saya pernah beberapa kali mengikuti aksi. Entah itu aksi penggalangan dana, penolakan kebijakan pemerintah, maupun aksi dalam rangka mengingatkan pemerintah untuk membuka mata pada permasalahan Indonesia.

Aksi terbesar yang pernah Saya ikuti adalah aksi evaluasi pemerintahan rezim Jokowi – JK, pada tanggal 21 Mei 2015, di Istana Merdeka, Jakarta.

satriabajahitam.com - jakarta ibukota perjuangan 5
pict: koleksi pribadi

Aksi yang digelar BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia) dan organisasi ekstra kampus se-Indonesia ini berlangsung di tengah terik yang menyengat.

Tapi semangat massa aksi tidak berkurang sedikit pun. Ini yang membuat Saya merinding sampai sekarang.

Masih ada orang-orang yang peduli terhadap bangsa ini. Mereka rela menyerahkan segalanya demi terselenggaranya pemerintahan yang sehat; pun suasana nyaman di semua lapisan masyarakat.

Saya tidak tahu pasti, berapa ribu jumlah mahasiswa yang datang ke Istana Merdeka saat itu. Yang jelas, dominasi kampus di Indonesia mengirimkan perwakilannya; negeri maupun swasta. Mereka merapatkan barisan, saling berpegang erat. Menghilangkan perbedaan.

satriabajahitam.com - jakarta ibukota perjuangan 6
pict: koleksi pribadi

Dan kami, dari Tasikmalaya, hanya organisasi eksternal saja yang berangkat. Perwakilan kampus tidak ada sama sekali. Duh.

Sedikit kecewa sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, pada saat itu, alasan yang Saya tahu, pemerintahan kampusnya belum terdaftar ke BEM SI.

Anggota KAMMI Tasikmalaya sangat terbatas sekali. Maklum, di Tasik organisasi eksternal masih dianggap tabu oleh orang dalam kampus.

Jadinya banyak mahasiswa yang cari aman saja. Berkegiatan sampai lelah di dalam kampus, mengurusi organisasi dalam kampus, dan tentu … permasalahan kampus.

KAMMI Tasikmalaya kemudian menghubungi KAMMI Ciamis dan Garut untuk membuat penuh bis yang sudah disewa. Sayang, kan, kalau kosong.

Berangkat dari Tasikmalaya sekira pukul 22:00, sampai di Jakarta pagi-pagi sekali.

Masjid Istiqlal jadi tempat pemberhentian utama. Setelah shalat dan sarapan secukupnya, kami berembuk membicarakan strategi dan mempersiapkan perangkat-perangkat aksi.

Spanduk, bendera, topeng, toa, dan juga pembagian-pembagian tugas; orator, korlap, danlap, dinlap, dll. Saya kurang paham.

Yang jelas, dalam barisan yang rapat kami berjalan didampingi polisi. Terdengar dari handy talkynya, ternyata starting point setiap kampus berbeda-beda.

Di Istiqlal kami bertemu dengan Universitas Lampung dan STT Telkom Bandung.

satriabajahitam.com - jakarta ibukota perjuangan 8
pict: koleksi pribadi

Singkat cerita kami long march dari Masjid Istiqlal dengan khidmat. Menujukan setiap langkah kaki yang tertapak hari itu demi tujuan mulia, saling ingat-mengingatkan dalam hal kebenaran pada pemerintah.

Salah satu tujuan mahasiswa turun ke jalan adalah memberitahu masyarakat dan khalayak luas bahwa mereka sedang dikadali pemimpinnya.

Sebab tidak semua rakyat paham yang terjadi, mereka tahunya hanya harga pokok naik di sana-sini.

Di tengah perjalanan, nyanyian-nyanyian hati masyarakat tertuangkan dalam sebuah lirik yang, Saya rasa, semua mahasiswa mengetahuinya.

Judulnya Darah Juang. Begini.

Di sini negeri kami

Tempat padi terhampar

Samuderanya kaya raya

Tanah kami subur, tuan.

 

Di Negeri permai ini

Berjuta rakyat bersimbah luka

Anak kurus tak sekolah

Pemuda desa tak kerja

 

Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapar

Bunda relakan darah juang kami

Untuk membebaskan rakyat

 

Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapar

Bunda relakan darah juang kami

Padamu kami mengabdi

Padamu kami berjanji

Miris sekali memang. Tanah kaya raya dieksploitasi pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Terlebih lagi oleh orang asing.

Indonesia tanah surga, katanya.

Megabiodiversitas, katanya.

Jamrud khatulistiwa, katanya.

Katanya dan katanya.

satriabajahitam.com - jakarta ibukota perjuangan 7
pict: koleksi pribadi

Maka hari itu, menggema satu lagi lagu mahasiswa di jalan-jalan Jakarta. Saya menyebutnya Halo Halo Jakarta. Begini.

Halo-halo Jakarta, Ibukota perjuangan

Halo-halo Jakarta, kota kenang-kenangan

 

Sudah lama beta, tidak berjumpa dengan kau

Sekarang telah menjadi lautan aksi!

Mari, bung, rebut kembali.

Saya beruntung mengalami hal ini. Meskipun tidak sampai akhir menjadi mahasiswa, tapi setidaknya … Saya pernah turun ke jalan membela hak rakyat yang diperkosa.

Apa Komentarmu?