Contoh Khutbah Jumat Singkat: Meneladani Keluarga Nabi

Contoh Khutbah Jumat Singkat – Assalaamu’alaykum. Perkenankan kami menulis kembali tentang contoh khutbah jumat singkat sebagai referensi untuk anda. Di sini kami akan langsung menuliskan isi khutbah, untuk rukun-rukun khutbahnya sila anda menuju artikel ini: rukun-rukun khutbah.

Contoh Khutbah Jumat Singkat: Meneladani Keluarga Nabi

Ayat:


dalam diri rasulullah ada teladan

Al ayah.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah, pertama-tama marilah kita sama-sama memanjatkan puji dan syukur kehadiratNya, yang telah memberikan kita hidayah sehingga hati dan segala anggota tubuh masih tergerak untuk melaksanakan kewajiban mingguan ini, yaitu salat Jum’at.

Selawat dan salam harus senantiasa terlimpahkan pada kanjeng Nabi Muhammad saw. atas segala perjuangannya melawan kedzaliman dan kemusyrikan, sehingga hari ini tidak ada lagi hak siapapun yang direndahkan secara sistem. Beliaulah yang membawa kita pada semurni-murni tauhid.

Beliaulah suri tauladan. Segala kehidupan terkumpul jadi satu dalam dirinya. Orang-orang kaya mengambil pelajaran tentang kedermawanan, orang-orang miskin seakan mendapatkan pelipur lara dari kisah-kisahnya, anak yatim serasa mendapatkan teman dan nasehat agar tidak bersedih hati. Selawat salam selalu tercurah untukmu, ya Sayyidinaa Muhammad.

Juga untuk keluarganya yang mendukung beliau saw. dalam setiap keadaan. Merekalah yang lebih mementingkan diri rasulullah saw. ketimbang dirinya sendiri. Tidak luput pula selawat salam itu kita harus sampaikan pada sahabatnya yang selalu setia, dan mudah-mudahan kita sebagai ummatnya diakui sebagai pengikut yang taat. Aamiin.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.

Telah kami sampaikan di awal, pada surat Al-Ahzab ayat 21 (bacakan lagi ayat di atas), yang artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Allah telah mengisyaratkan bahwa setiap kehidupan kita sebagai seorang muslim, hendaknya dicerminkan pada kehidupan rasulullah saw. sebab dalam setiap kisahnya terdapat pelajaran penting untuk kita sebagai ummatnya. Bukankah mengikuti rasulullah saw. merupakan tanda kecintaan kita kepadanya?

Telah begitu banyak manuskrip-manuskrip, buku-buku, dan tulisan-tulisan yang mengisahkan tentang perjalanan beliau sebagai seorang Nabi. Namun semua tulisan itu selalu dilihat dari sudut pandang kepemimpinan, politik, kenegaraan, kebaikan hati pada sesama, ketegasan pada kaum kafir; bagaimana keadilan dijalankan, dan lain sebagainya.

Hampir semuanya menceritakan Rasulullah sebagai Rasul dan atau sebagai pemimpin, lantas bagaimanakah kehidupan Rasulullah sebagai suami atau ayah?

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.

Kita tahu, rumah tangga Rasulullah saw. adalah rumah tangga yang menjadi rahim peradaban Islami, rumahnya menjadi mata air dari semua aliran kesegaran yang kita rasakan hari ini.

Khadijah bint Khuwailid adalah cinta tak tergantikan dalam hidupnya. Walau sebelum pernikahan hidup mereka bagai bumi dan langit, tetapi Allah menghubungkan mereka.

Bagaimanakah sikap Rasulullah saw. ketika bersama Khadijah yang sejak awal adalah orang mulia, cantik lagi cerdas, hartawan, dan diincar oleh banyak laki-laki, ketika Rasulullah sendiri adalah seorang yatim, buta aksara lagi mantan penggembala, dan lebih pelik lagi, beliau saw. adalah reseller barang dagangan Khadijah?

Rasulullah saw. menempatkan Khadijah pada tempatnya. Dia dimuliakan. Karena cerdas, Rasulullah tidak segan-segan menceritakan keluh kesahnya pada Khadijah lalu meminta saran, atau Khadijah memberi saran dan Rasulullah menerimanya dengan penuh.

Meskipun menjadi seorang kepala rumah tangga, Rasulullah tidak pernah malu untuk menyandarkan keluh kesahnya pada sang istri; seperti pada saat Nabi menerima wahyu pertama.

Dalam gigil tubuh dan berat hatinya; ketika kuyup-basah kening beliau saw. oleh keringat dingin yang tak berkesudahan, Khadijah memeluk Muhammad dengan penuh kehangatan. Ah, betapa, barangkali, kita di zaman ini berpikir “Laki-laki macam apa yang malah meminta perlindungan pada istrinya?” atau setidaknya merasa malu.

Tapi Rasulullah tidak!

Setelah Khadijah bint Khuwailid memeluknya erat, dia bertanya pada Nabi karena khawatir. Tapi Nabi tak bergeming. Pucat lesi seluruh tubuhnya sembari berbisik, “Selimuti aku, selimuti aku.” Khadijah kemudian lekas mengambil selimut dan melipatkannya membungkus Sang Nabi.

Diusapnya peluh, dikeringkannya keringat Muhammad hingga rasa takut tak lagi menyergap. Tenang. Kemudian ditatapnya muka Khadijah yang teduh itu lekat-lekat; Muhammad berterima kasih dengan tulus.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.

Apakah kita tidak mengambil pelajaran dari kehidupan mulia ini? Tentang bagaimana Rasulullah memuliakan istrinya dengan tidak hanya cinta kasih, tetapi juga penghormatan atas kehadirannya dalam setiap masalah yang kita hadapi. Sudahkah kita, terkhusus para jamaah jumat yang telah beristri, menyampaikan terimakasih pada istri-istri kita atas segala kebersamaan, kesabaran, dan penerimaan tulus mereka atas kekurangan dan kelemahan kita?

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.

Bila kemudian Rasulullah saw. memperlakukan Khadijah sedemikian terhormatnya, bagaimanakah sikap Rasulullah terhadap istrinya yang umurnya jauh terpisah di bawahnya?

‘Aisyah bint Abu Bakar namanya. Dipinang Rasulullah sejak masih kecil, bersamaan dengan pernikahannya dengan Saudah.

Cerita singkatnya begini. Ketika ‘Aisyah telah satu rumah dengan Rasulullah, sifat ‘anak-anak’-nya lupa tak ia tinggalkan di rumah ayahnya, Abu Bakar. Sifat manja, ‘urakan’, dan ingusan ia bawa ke rumah Rasulullah sampai suatu ketika Nabi masuk ke kamar ‘Aisyah. Didapatinya ‘Aisyah sedang bersama dua biduanita dan menabuh rebana sambil bernyanyi-nyanyi.

Mengetahui itu Abu Bakar memarahi ‘Aisyah karena telah berlaku tidak pantas, “Seruling setan berada di dekat Nabi?” Tapi yang dilakukan Rasulullah malah sebaliknya. Ia kemudian berkata, “Biarkanlah mereka.”

Ma syaa Allah.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah. Begitulah suri tauladan. Dari dua istrinya saja kita bisa mengambil banyak sekali pelajaran. Tentang bagaimana beliau bisa menempatkan diri sebagai suami seutuhnya; sebagia pemimpin, tetapi pula sebagai sahabat yang tidak hanya dimintai pendapat, tapi meminta pendapat. Menjadi teman bermain yang menyenangkan bagi istrinya, tetapi pula tetap menjadi pagar yang membatasi agar tak keluar jalur yang telah Allah ridho atasnya.

Baca juga: Contoh Khutbah Jumat tentang Kematian

Apa Komentarmu?