resensi buku novel tere liye rindu

Juara Lomba Resensi Novel Tere Liye Rindu

[Resensi Buku Non Fiksi] Novel Tere Liye Rindu – Tere Liye adalah seorang maestro dalam dunia pernovelan Indonesia. Karya-karya non fiksi (novel) yang diterbitkan selalu saja masuk ke jajaran buku terlaris dan terfavorit. Rindu, adalah salah satu judul novel yang ditulis Tere Liye di tahun 2014.

Sampai sekarang, novel Tere Liye Rindu masih banyak dicari. Oleh karena itu, satriabajahitam akan coba untuk menuliskan resensi (bukan sinopsis, ya. Resensi dan sinopsis itu beda) buku novel Tere Liye Rindu ini, sebagai referensi bagi kalian yang akan membeli buku ini.


Detail Novel Tere Liye Rindu


resensi novel tere liye rindu
republika.co.id

Judul Buku: Rindu

Penulis: Tere Liye

Editor: Andriyanti

Penerbit: Republika

Tahun Terbit: 2014

Tebal Buku: 544 Halaman


Resensi Novel Tere Liye Rindu


resensi buku novel tere liye rindu
sukamakancokelat.com

“Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?”

Tere Liye Rindu, adalah sebuah novel yang menyuguhkan kesegaran di tengah novel-novel lain yang bertebaran di Indonesia. Rindu mengisahkan tentang perjalanan panjang Jamaah haji Indonesia pada tahun 1938, tentang Blitar Holland; sebuah kapal uap, tentang sejarah nusantara.

Dan tentu karena judulnya Rindu, novel Tere Liye ini juga berputar pada pertanyaan tentang masa lalu, cinta, takdir, rasa benci, dan kemunafikan.

Tere Liye menuliskan novel Rindu ini dengan alur maju. Menurut saya ini sangat bagus sekali karena pembaca dapat dengan mudah mengikuti jalan cerita. Meskipun di beberapa bagian, Tere Liye menyelipkan kisah-kisah lain dalam bentuk dialog; tetapi cerdiknya, kisah tersebut masih punya hubungan dengan kisah utama yang tengah disajikan.

Sehingga, walaupun latar dalam novel Rindu ini didominasi oleh aktifitas para penumpang kapal upa Blitar Holland, tidak terasa membosankan saat membacanya.

Gaya penulisan yang khas dari Tere Liye tetap mewarnai novel Rindu ini. Sederhana, mudah dimengerti pembaca, dan menohok. Di beberapa dialog, Tere Liye menuliskan dialog berbahasa Belanda; memang tidak disertakan artinya, tetapi pembaca dapat memahami maksud dari dialog itu dengan deskripsi dari Tere Liye.

Seperti pada halaman 35 novel Rindu ini,

“Mag ik uw kaatje, Meneer?” salah satu kelasi bertanya sopan, persis saat Gurutta menginjak dek kapal, menanyakan tiket dan dokumen perjalanan.

Tere Liye membuka novel Rindu dengan prolog yang unik. Beliau menukil fakta nusantara pada tahun 1938. Seperti sebuah fakta bahwa pada tahun tersebut Indonesia (masih bernama Hindia Belanda), mengikuti Piala Dunia di Prancis untuk pertama kalinya.

Selanjutnya, kapal uap Blitar Holland menjadi saksi seluruh kisah di novel Rindu setebal 544 halaman ini. Lalu setelah itu, satu persatu tokoh mulai dimunculkan.

Novel yang baik adalah novel yang membuat pembaca jatuh cinta atau minimal simpati pada karakter / tokoh yang ada pada novel tersebut. Seperti karakter Dilan pada novel Dilan 1990 karya Pidi Baiq, yang sangat memikat para pembacanya sampai-sampai berharap Dilan menjadi manusia yang nyata.

Di novel Rindu, saya juga merasakan hal yang hampir sama, tetapi bukan pada karakter pertama yang dimunculkan Tere Liye dalam novel tersebut.

Tokoh yang pertama kali dimunculkan bernama Daeng Andipati. Karakter Andipati ini sudah sangat banyak ditemui di novel-novel lain. Dia adalah pedagang kaya raya asal Makassar, pintar, dan baik hati. (hal. 11)

Di dalam novel tersebut, Daeng Andipati adalah salah seorang jamaah haji yang mengikutsertakan istri, dua anak, dan seorang pembantu; sosoknya kharismatik, terhormat, dan digambarkan sebagai orang yang dekat dengan orang Belanda.

Sekilas, tampak sekali Daeng Andipati ini orang yang bahagia. Kariernya sukses, punya anak istri yang baik dan shaleha; kehidupan yang didambakan semua orang. Tetapi kemudian diceritakan bahwa Daeng Andipati mempunyai hal tersembunyi di dadanya; hal yang membuat seluruh kehidupan Daeng Andipati seolah tidak ada artinya lagi.

Kebencian Daeng Andipati pada ayahnya.

“… karena jika kau kumpulkan seluruh kebencian itu, kau gabungkan dengan orang-orang yang disakiti ayahku, maka ketahuilah Gori, kebencianku pada orang tua itu masih lebih besar. Kebencianku masih lebih besar dibandingkan itu semua!” (hal. 362)

Namun, menarik. Tere Liye—seperti biasa- begitu lihai dalam mengarahkan pembaca agar tidak terjebak pada konflik semacam tersebut tanpa pemecahan. Jadi tenang saja, pernyataan tentang kebencian itu memiliki tanggapan yang mendamaikan, sehingga siapapun pembaca yang sedang mengalami hal serupa … dapat mengambil sikap terbaik.

Kemudian tokoh yang dimunculkan Tere Liye, dan menghiasi perjalanan panjang jamaah haji di atas kapal uap Blitar Holland adalah dua kakak-beradik bernama Anna dan Elsa. Kedua tokoh ini menjadi pencair suasana. Saya bayangkan, mungkin novel Rindu ini akan berat dan membosankan tanpa kehadiran dua sosok ini.

Tere Liye sudah sangat berpengalaman dalam membuat karakter anak, seperti Delisa. Anna dan Elsa berkarakter periang, polos, dan menggemaskan. Cerita mereka dalam novel ini mendapatkan porsi yang lumayan panjang.

Tere Liye sadar betul, anak-anak tidak pernah terlepas dari kehidupan kita. Mereka adalah penghibur hati. Dunia pasti akan membosankan tanpa kehadiran anak-anak. Ini menjadi nilai plus novel Rindu. Ide tentang anak-anak yang membersamai orang dewasa pergi haji agaknya belum pernah dipakai di novel manapun.

Lalu selanjutnya, Tere Liye menghadirkan sosok Ulama. Hal baru, menurut saya, dalam karya Tere Liye. Nama tokoh Ulama yang dimunculkan adalah Ahmad Karaeng; sering dipanggil Gurutta. Seorang Ulama yang mempunyai ilmu dan keindahan adab.

Empat dari lima pertanyaan besar di novel Rindu, jawabannya keluar dari lisan Gurutta. Ulama yang bijak. Gurutta akrab sekali dengan orang-orang Belanda di kapal uap itu, bahkan dia sering duduk satu meja dengan Chef Lars, berbincang santai dengan Ruben si Boatswain, dan ikut terlibat pada urusan penting ketika berada di kapal bersama kapten Phillips.

Namun di luar semua kelebihannya, Ahmad Karaeng tetaplah manusia biasa, dia menyembunyikan sesuatu; yang begitu dikhawatirkan dan mengganggu batinnya.

Lihatlah kemari wahai gelap malam. Lihatlah seorang yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaannya sendiri.

Lihatlah kemari wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia tidak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri. (hal. 316)

Nampaknya, kisah cinta selalu menjadi sesuatu yang menarik dalam setiap novel. Dan memang sepertinya, di novel apapun selalu ada sepasang atau dua pasang yang muncul dengan keromantisannya. Begitupun di novel Rindu ini.

Saya amat terkesan dengan karakter pecinta di novel ini. Mereka bukan pasangan muda, karena biasa sekali pasangan muda menjalin keromantisan. Tere Liye memunculkan kisah cinta seorang pasutri sepuh dari Semarang; namanya Mbah Kakung dan Mbah Putri Slamet. Paling sepuh, tetapi juga paling romantis.

“Pendengaranku memang sudah tidak bagus lagi, nak. Juga mataku sudah rabun. Tubuh tua ini juga sudah bungkuk. Harus kuakui itu. Tapi aku masih ingat kapan aku bertemu istriku. Kapan aku melamarnya. Kapan kami menikah. Tanggal lahir semua anak-anak kami. Waktu-waktu indah milik kami. Aku ingat itu semua.” (hal. 205)

Lewat Rindu, Tere Liye seolah mengirimkan pesan khususnya pada kawula muda tentang contoh konkret dari sebuah cinta sejati. Adalah Mbah Kakung dan Mbah Putri Slamet mencontohkan bahwa cinta sejati adalah yang lama dalam ber-rumah tangga, bukan pacaran.

Bukan kawula muda yang bergaul bebas, tanpa komitmen, dan melanggar batas-batas agama … atas nama cinta. Bukan.

Sayangnya, ada hal yang membuat dada sedikit sesak. Hal yang kemudian menjadi salah satu pertanyaan besar dalam novel Rindu ini.

Seorang pemuda juga membawa tema cinta dalam novel Rindu ini. Dia bernama Ambo Uleng; kelasi pendiam yang suka merenung di hadapan jendela bundar kabin. Meskipun kemisteriusan Ambo Uleng baru diketahui di halaman 483, sebetulnya para pembaca sudah bisa menebak-nebak apa yang terjadi pada Ambo Uleng ini.

“Aku hanya ingin meninggalkan semuanya, Kapten.” (hal. 33)

Ambo Uleng juga merupakan karakter yang membuat saya jatuh hati. Pasalnya ia punya semangat dalam mengaji meskipun harus berguru pada Anna, si gadih kecil yang pernah ia tolong dalam sebuah peristiwa besar di Surabaya.

Kecakapan dan kecerdasan Ambo Uleng di novel Rindu menyertai beberapa adegan heroik yang terjadi dalam kisah setebal 544 halaman. Menariknya, satu dari lima pertanyaan besar terjawab dari tangan Ambo Uleng ini.

Pertanyaan yang bukan dari pejelasan lisan atau tulisan, tapi dengan perbuatan tangan. (hal. 540)

Tokoh terakhir yang dikisahkan novel Rindu ini adalah Bonda Upe; tokoh yang menjadi guru mengaji anak-anak di kapal uap Blitar Holland. Bonda Upe membuat saya simpati. Tere Liye menggambarkan suasana batin Bonda Upe dengan sangat sempurna.

Siapapun pembaca pasti akan merasakan sesuatu yang terpendam dalam dada perempuan itu. Gelisah, sesak, pun ketika dia menemukan secercah cahaya yang membuatnya bisa melihat hidupnya dengan perasaan yang lapang.

“Ma, kalau Bonda Upe itu orang China, kenapa dia Islam?”

“Koh Acan di Kampung Butung uga Islam, apanya yang aneh?” (hal. 108)

Di atas kapal uap, dalam perjalanannya ke Tanah Suci, Bonda Upe memboyong pertanyaan besar berkaitan dengan masa lalunya sebagai seorang cabo. Ada hikmah penting yang bisa dipelajari dari kehidupan Bonda Upe, salah satunya adalah nilai ketulusan dari Enlai, suami Bonda Upe.

“Dia tulus menyemangatimu, tulus mencintaimu. Padalah, dia tahu persisi kau seorang cabo. Sedikit sekali laki-laki yang bisa menyayangi seorang cabo. Tapi Enlai bisa, karena dia menerima kenyataan itu. Dia peluk erat sekali. Diabahkan tidak menyerah meski kau telah menyerah. Dia bahkan tidak berhenti meski kau telah berhenti.” (hal. 312 – 313)

Tere Liye, bukan hanya menciptakan tokoh-tokoh menarik. Novel Rindu meskipun hanya merupakan potret perjalanan sebuah kapal uap milik Belanda menuju Tanah Suci, tetapi saja di dalamnya tersaji berbagai macam konflik yang tidak akan pernah terpikir sebelumnya oleh pembaca.

Salah satunya adalah penyerangan kapal oleh bajak laut Somalia, kapal yang terancam terkatung-katung di laut lepas, dan ada pula kisah tentang seseorang yang mencoba membunuh Daeng Andipati, juga kasus yang membuat Gurutta dipenjara di sel kapal uap Blitar Holland.

Tere Liye juga menyelipkan sebuah pesan tentang keberagaman dalam beragama; toleransi. Dikisahkan dalam perjalanan menuju tanah suci; dari Kolombo menuju Jeddah, para kelasi mengadakan perayaan Natal. Dalam sebuah dialog antara Anna dan Daeng Andipati, Tere Liye menegaskan makna toleransi dari sudut pandang yang berbeda.

“… tanpa menghadiri acara itu, kita tetap meghormati mereka dengan baik, sama seperti Kapten Phillips yang sangat menghormati agama kita. Pun tanpa harus mengucapkan selamat, kita tetap bisa saling menghargai. Tanpa perlu mencampur adukkan hal-hal yang sangat prinsipil di dalamnya.” (hal. 499)

Kekayaan tema dalam novel Rindu juga diperbanyak oleh sosok dua guru yang kreatif dan hebat; mereka adalah Bapak Mangoenkoesoemo dan Bapak Soerjaningrat, dua guru terbaik dari Surabaya.

Novel Rindu ini juga berbobot karena berisi berbagai cuplikan sejarah beberapa daerah yang dijadikan latar. Seolah-olah para pembaca dapat merasakan secara langsung suasana di zaman lampau. Suasana lampau Surabaya, misalnya. Trem listriknya.

Begitu pula Banten, yang warganya berbaur dengan orang-orang Belanda; Kolombo, berkeliling menaiki kereta sapi.

Akhirnya, saya hanya bisa menyimpulkan, novel Rindu menjadi bacaan dengan ide segar yang tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga direnungkan pelajaran-pelajaran yang terselip di dalamnya.

2 thoughts on “Juara Lomba Resensi Novel Tere Liye Rindu

Apa Komentarmu?