mehendi pernikahan - satriabajahitam.com

Mempersunting

mehendi pernikahan - satriabajahitam.com
sumber: satriabajahitam.com

Saya tidak sedang membicarakan ritual ibadah yang sakral. Tidak.

Judul dan gambar hanya sebagia bait saja. Biar penasaran dan dibaca.

Maaf, ya. Maaf, dong.

Ini tentang pengalaman beberapa hari kemarin, yaitu mempersunting tulisan –menyunting maksudnya, ea- seorang rekan kampus yang katanya ikut lomba menulis autobiografi.

Menyunting Tulisan - Satriabajahitam
sumber: annabelsmith.com

Beliau meminta tolong Saya memoles tulisannya. Tidak lupa pula meminta ditambahkan kata-kata puitis. Mungkin dia menganggap Saya bujangga, yang sedikit bisa membuat huruf-huruf menari dan berirama.

Tapi akhirnya Saya malah rombak semuanya. Tidak sopan memang.

Saya sering dimintai hal semacam ini. Entah itu finishing sebuah tulisan, menentukan judul, tagline, sampai memeriksa partikel-partikel tanda baca yang kurang pas ditempatkan.

Bahkan pernah dimintai membuat judul proposal Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM). Tapi proposal itu tidak lolos. Mungkin karena judulnya jelek. Heu.

Saya tidak akan bercerita panjang di posting ini. Silakan membandingkan dua tulisan sebelum dan sesudah Saya sunting –cie sunting, cie- lalu tanggapi. Saya akan sangat senang menerimanya …

Sebelum Disunting

andika kangen band - satriabajahitam.com
sumber: cdns.klimg.com

Jebakan Keberuntungan

Cerita ini bermula di suatu hari, penghujung malam. Tepatnya tanggal 25 juli 1995. Anggota keluargaku berjumlah delapan orang. Tiga perempuan yaitu ibuku, tetehku dan aku. Lima laki laki yaitu papaku dan empat saudara laki lakiku. Sebut aku […], untuk yang pertama kali mendengar namaku, aku tahu kalian pasti berfikir namaku aneh, aku juga begitu. Sempat aku bergidik, kutanyakan pada papaku kenapa aku diberi nama […]. Katanya tahun 1995 adalah masa emas, masa pemerintahan Soeharto. Harga sembako dan kehidupan masa itu tidak susah seperti sekarang

Aku ingat sekali saat aku masih gemas gemasnya. Tetehku dan empat kaka laki lakiku hidup di Tasik, papa dan ibuku di Jakarta. Katanya, mereka mencari uang disana. Kakak perempuanku sudah menikah ketika itu. Dia  dipercaya menjaga semua adiknya. Saat masih kecil, aku sangat dekat sekali dengan semua kakakku. Kemudian setelah umurku lima tahun papa dan ibu kembali tinggal di Tasikmalaya. Aku didaftarkan ke TK Sukapura yang ada di Jl.Letnan Harun komplek perkantoran kabupaten Tasik. Yang aku tahu sekarang, Tknya sudah hilang tapi komplek perkantorannya ada hanya saja berubah jadi milik kota. Kebetulan, ibu dan papaku menjual nasi di kantin komplek perkantoran. Kali ini setiap hari aku bisa bertemu dengan mereka.

Selama enam tahun aku bersekolah di SDN Sukarindik 3, jaraknya lumayan jauh dari rumah, aku berjalan kaki kesana, senang karena berangkat bersama teman teman. Kemudian kali ini aku duduk di bangku SMPN 16 Tasikmalaya. Padahal aku ingin sekolah di SMPN 5 tapi kata ibu tidak boleh. Jaraknya jauh, harus pake motor sementara SMPN 16 tidak jauh dari rumah bisa jalan kaki, sepanjang jalan menuju SMP aku bisa melihat hamparan luas sawah hijau ketika matahari malu malu datang disana aku bisa melihat tangga kawah gunung galunggung disana, sangat menyejukkan.

Sejak SMA aku memiliki banyak cita cita dan keinginan jangka panjang, seperti ingin masuk universitas popular, graduate S2 di luar negeri, target menikah, jumlah anak, rumah impian hingga tipe mobil impian, semua yang ingin aku miliki dan aku alami ditulis dalam note corat coretku hasilnya terbukti! Beberapa keinginan yang tertulis itu terwujud tanpa aku sadari telah menulisnya.

Kata orang masa SMA adalah masa paling indah, menurutku juga. Tahun 2011 sampai 2014 aku sekolah di SMAN 4 Tasikmalaya, aku tidak diterima di SMAN 2 Tasikmalaya padahal jaraknya lebih dekat dari rumah. Menyebalkan, dua hari dua malam aku nangis dikamar. Bayangkan saja temanku berhasil dan aku seorang yang gagal. Tapi di SMA4 aku bertemu banyak sahabat, guru guru yang menyenangkan, teman laki laki rasa martabak special dan tentu aku jadi tahu lingkungan cieunteung, paseh dan cilembang.

Di tingkat under graduate, aku memutuskan untuk menjadi seorang pengajar atau guru,  profesi yang cukup menyenangkan, sejak kecil aku sering bemain sekolah sekolahan tentu aku menjadi gurunya. Guru adalah profesi yang mulia pahlawan tanpa tanda jasa. aku setuju, tapi aku punya alasan penting sendiri. Karena aku tak mungkin jadi model catwalk, berlenggak lenggok dijalan kucing membuat orang kagum dan bilang wow, setidaknya aku bisa jadi model di depan kelas hehe. Memasuki bangku perguruan tinggi aku memutuskan untuk memilih kampus yang berdomisili di Tasik. Toh di tasik banyak kampus yang bisa menjadikan aku seorang guru profesional.

Aku dan ibuku tinggal berdua dirumah. Tidak, ibuku tidak bercerai dengan papaku. Ketika aku kelas enam SD, papaku meninggal dunia. Yang aku ingat, awal ramadhan tepatnya enam ramadhan papaku meninggal, dia tidak sakit. Malam sebelum papaku meninggal aku dan papaku berangkat berdua ke mesjid untuk melaksanakan sholat tarawih. Dia memakai koko putih sarung biru dan peci hitam kesukaannya. Entah kenapa diakhir terawih dia menyalami semua jamaah, tetanggaku yang bilang. Pukul tiga pagi ketika ibuku sedang mengaji di tengah rumah,  dia melihat ayahku pergi ke wc kemudian pukul tiga lebih tiga puluh menit saat kita harus menyantap sahur ayahku tidak keluar kamar. Ibupun heran biasanya tidak begitu, ibuku menghampirinya dan innalillahi dia sudah tidak bernyawa.

Awalnya di SMPTN aku memilih jurusan PGSD dan PGPAUD UPI Tasik, kebetulan aku memilih jurusan sama dengan salah satu sahabatku Tata, kita juga membuat rencana kedua dimana kita tidak lolos seleksi harus ada satu kampus yang mau menerima kita. Kampus itu adalah universitas siliwangi, disana kami memilih jurusan yang sama pula, jurusan pendidikan bahasa inggris. Setelah kita melakukan wawancara di kampus, diluar dugaan. Dia ikut seleksi SBMPTN tanpa mengajakku. Beruntungnya dia lolos, aku kalang kabut karena dia tidak terbuka tentang keikut sertaannya di SBMPTN. Aku sendiri terjebak, terjebak pada rencana cadangan yang kita berdua buat di UNSIL ini.

Permulaan kuliahku dijurusan b.inggris berjalan cukup baik.. Belajar bahasa asing adalah pilihanku bukan bersedia menjadi budak mereka toh tidak ada salahnya mempelajari bahasa orang lain selama masih memegang teguh bahasa sendiri. Coba kamu gunakan sudut pandang yang sama denganku mungkin kita akan sama sama setuju. Masa orientasi kampus, aku mantap masuk UKM kerohanian. Aku harus menjadi lebih baik! Berubah! Jadi power ranger bernbaju syar’i! Dekat dengan tuhan, merasakan ketenangan dan bertemu dengan orang orang yang masyaAlloh yaaaah. Tahajud, dhuha, majelis ta’lim mereka selalu mengingatkanku untuk melakukan itu. Tidak memaksa tetapi mengajak.

Beberapa minggu setelah kuliah dimulai aku dapat kabar dari teman katanya aku harus check persyaratan masuk kampus yang belum lengkap. Ternyata benar namaku berlabel merah, setelah di tanyakan kepada staff BAA disana aku adalah calon penerima bidik misi. Percaya ga percaya sih, aku tidak perlu membayar biaya kuliah malah aku mendapat uang perbulannya, Alhamdulillah setidaknya aku tidak merepotkan ibu lagi sekarang. Hal yang aku dapatkan ini harus aku bayar dengan usaha yang begitu keras dalam belajar.

Disamping kuliah akupun mengajar TK Al-Qur’an di dekat rumahku. Lucunya gajinya hanya 40 ribu per bulan. Tidak masalah aku hanya mengajar setiap jum’at sabtu toh kuliahpun aku tidak bayar, ilmu yang aku dapatkan gratis ini tidak akan memudar hanya karena di bayar 40 ribu saja. Disamping itu, aku paham keadaan orang tua muridku sebagian besar adalah seorang buruh. Aku senang bertemu dengan mereka walau terkadang anak anak itu menyebalkan dan membuat kepala ini pusing. Setidaknya aku merasa beruntung masih punya hati nurani untuk memanfaatkan ilmu dan bersekutu dengan kaum yang benar benar haus akan ilmu pengetahuan. Murid TKku sangat senang bila aku bercerita. Mereka selalu terperongo ketika ku ceritakan hal hal baru apalagi saat aku ceritakan keinginanku pergi ke luar negeri naik pesawat, mereka terlihat kagum entah tidak mengerti . Aku beruntung! Hal hal yang menjebak ini ternyata indah.

Sesudah Disunting

satriabajahitam.com - sasuke uchiha cosplay
sumber: i.ytimg.com

Jebakan Keberuntungan

Cerita ini bermula pada suatu hari, di bagian malam yang paling gelap.

25 Juli 1995.

Sebuah keluarga menggenapkan anggotanya. Sejabang mungil nan suci merengek; entah bahagia atau takut, tidak jelas. Melihat dunia mungkin memang memberinya dua kemungkinan; menjadi orang yang bahagia atau sengsara, tapi sudah dipastikan … orang tua bayi itu akan banting tulang peras keringat demi mengukus kebahagiaannya agar benar-benar dapat dinikmati.

Jabang itu adalah aku, […], anak bungsu dari enam bersaudara. Satu kakak perempuan, empat laki-laki. Anak dari sepasang manusia paling bahagia di dunia, saat itu.

[…], terdengar asing dan aneh di telinga siapapun, termasuk diriku sendiri. Pernah sekali kutanyakan pada ayah, apa sebab beliau memberiku nama ini. Katanya, tahun 1995 itu adalah masa emas; saat harga sembako, kurs rupiah, dan biaya hidup lainnya tidak seperti sekarang.

Semoga memang, seperti filosopi dari nama yang diberikan ayah, kelahiranku tidak membawa kesusahan, melainkan membawa kebahagiaan; tidak hanya di hari saat aku merengek di haribaan ibu, tapi juga seterusnya.

Aku diasuh oleh kakak perempuan sampai –sekira- umur lima tahun. Sebab ayah dan ibu, pada rentang waktu itu, mencari nafkah di Jakarta untuk menghidupi lima anaknya yang ada di Tasikmalaya. Lima, karena kakak perempuanku sudah menikah.

Pada umur lima, saat ayah dan ibu sudah kembali dari perantauannya, aku disekolahkan di Taman Kanak-kanak (TK) Sukapura. Letaknya di Jl. Letnan Harun, komplek perkantoran Kabupaten Tasikmalaya. Tempat yang hari ini hanya bisa dikenang dalam pikiran saja, tidak bisa dinapaktilasi secara fisik. Sebabnya, TK Sukapura sudah tidak ada, tinggal komplek perkantorannya saja yang tetap seperti dulu. Itupun sudah dialihkepemilikkan-kan; menjadi milik Kota Tasikmalaya.

Masa TK benar-benar menjadi masa pengakrabanku dengan orang tua, segala puji bagi Allah, mereka diskenariokan berjualan nasi di komplek itu. Jadi aku bisa bertemu mereka tidak hanya di rumah saja, melainkan di sekolah juga.

Fase berikutnya aku lalui di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sukarindik 3. Jarak sekolahku lumayan jauh dari rumah. Tapi aku memilih berjalan kaki. Melangkah bersama teman-teman itu menyenangkan.

Kemudian, setelah lulus SD, episode hidupku berlanjut di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 16 Tasikmalaya. Padahal aku ingin sekolah di SMPN 5. Tapi, kata ibu tidak boleh. Sebabnya karena jarak. Harus pakai motor; sementara SMPN 16 tidak terlalu jauh dari rumah. Bisa jalan kaki.

Aku masih ingat, sepanjang jalan menuju sekolah, padi yang tersapu angin melambai-lambai seakan-akan menyalamiku. Pun dalam beberapa kesempatan, mentari yang terlambat bertugas membelah sejuknya udara pagi, membuatku bisa melihat jelas tangga kawah Gunung Galunggung.

Aku lulus SMP.

Seperti anak remaja lain, aku memiliki banyak keinginan. Bahkan mungkin overdosis. Dalam buku catatanku tertulis: 1) Masuk universitas ternama. (2) Melanjutkan S2 di luar negeri. (3) Target menikah. (4) Jumlah anak. (5) Rumah impian, dll. sampai tipe mobil pun aku tuliskan.

Semua pengalaman dan harapan, aku tuliskan dalam catatanku itu. Sampai hari ini, beberapa baris sudah aku coret; tanda bahwa hal itu sudah aku capai.

Masa Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah masa yang paling indah. Tiga tahun yang sangat berkesan sekali; 2011 – 2014 di SMAN 4 Tasikmalaya . Meskipun pernah ada kekecewaan karena gagal masuk ke SMA yang telah aku rencanakan. Tidak apa-apa.

Ceritanya, saat aku gagal … kasur tidurku seperti disiram air. Basah air mata. Dua hari dua malam aku menjerit dalam keheningan. Tembok kamar serasa memarahi ketidakmampuanku. Ah, tapi ternyata itu hanya soal waktu.

Iya. Waktu terus berjalan, mengantarkanku pada banyak sahabat, guru yang menyenangkan, teman laki-laki rasa martabak spesial, dan banyak hal.

Di tingkat under graduate, aku memutuskan untuk menjadi seorang pendidik, pahlawan tanpa tanda jasa. Aku punya alasan sendiri, ya … aku tak ingin jadi model catwalk, hehe.

Memasuki bangku perguruan tinggi, aku putuskan memilih kampus lokal. Toh, di Tasik pun banyak kampus yang bisa menjadikanku seorang guru profesional. Ada Universitas Pendidikan Indonesia, ada juga Universitas Siliwangi. Tapi takdir membawaku ke Unsil, jurusan Bahasa Inggris. Alhamdulillaah. Meskipun sebenarnya masuknya diriku ke Unsil didahului drama yang sungguh membuatku lelah. Serasa terjebak jaring-jaring putus asa.

Di Unsil aku bertekad untuk berubah menjadi lebih baik, makanya aku menjerumuskan diri ke Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam Siliwangi (KISI). Di sana, aku menemukan rekan-rekan yang sekufu, maksudnya sama-sama sedang memperbaiki kehidupan akhirat. Amalan-amalan sunnahku jadi banyak yang mengingatkan. Selain juga terus memacuku lebih baik dalam urusan sosial. Segala Puji bagi Allah.

Sembari kuliah, aku mengajar TK Al-Qur’an di dekat rumah. Gajinya hanya 40 ribu per bulan. Tapi tidak masalah. Bukan nominal tujuanku. Lagipula aku hanya mengajar setiap jum’at dan sabtu. Ilmu yang aku dapatkan gratis dan tidak mungkin ada di kelas ini, tidak akan memudar hanya karena dibayar 40 ribu saja.

Aku pusing mengurus anak-anak. Pusing yang menyenangkan maksudku. Mungkin orang paling beruntung di dunia adalah […].

Murid-muridku memang bandel, tapi mereka selalu memutihkan nuraniku saat antusiasme dan binar mata mereka berkilat-kilat. Kerap kali, itu terjadi ketika aku bercerita tentang mimpi-mimpi yang aku tuliskan tadi; seperti tentang keinginanku untuk naik pesawat ke luar negeri. Entah, mereka selayak bintang yang ada di bumi, perlu disayangi dan dijaga dengan hati yang cahaya.

Keputusasaanku dahulu kini menjadi indah. Terimakasih kekecewaan, kau ajarkanku pentingnya untuk tetap tegar meski halang menghadang dan onak merintang.

Bersama sedikit kisah yang tertulis ini, aku sampaikan permintaan untuk mendoakanku menjadi seseorang yang terus memperbaiki diri, terlebih dari itu … menjadi anak yang berbakti. Agar aku bisa menjadi satu di antara tiga wasiat yang tidak akan pernah putus hubungannya ketika orang tuaku sudah tiada.

Aku kini hanya tinggal bersama ibu. Ayahku sudah bertemu kekasihnya yang sejati; Allah swt. Semoga kau tenang di alam sana, ya, ayah …

Ekstrak Tulisan

Sebetulnya Saya buat dua suntingan; yang satu dirombak sepenuhnya, yang satu lagi diperbaiki partikel tulisan dan diksinya saja. Ya … Saya tahu diri, lah. Benar-benar lancang kalau dirombak sepenuhnya lalu tidak memberikan pilihan untuk menentukan mana yang akan diperlombakan.

lomba balap kelereng - satriabajahitam.com
sumber: kejaraurora.files.wordpress.com

Saya juga memberi beliau dua pilihan, “Silakan mau pakai yang mana saja. Saya kirim dua; yang dirombak sepenuhnya buat referensi saja. Tapi kalau mau dilombakan juga tidak apa-apa.”

Gitu.

Lalu kekurangtepatan apa saja yang ada di tulisan awal?

Menurut buku yang pernah Saya baca –awalnya saja, belum tamat- kesalahan yang sering dilakukan penulis pemula adalah: Terlalu banyak ‘aku’ atau kata ganti sejenis dalam satu kalimat.

Maka yang Saya lakukan sebenarnya adalah memangkas hal itu.

memangkas rumput - satriabajahitam.com
sumber: 4.bp.blogspot.com

Lalu kemudian diksi yang kaku dirubah menjadi diksi yang bermajas agar sedikit hidup.

Partikel-partikel salah tempat juga Saya antar pulang ke tempatnya yang paling sesuai, supaya ketika dibaca … jedanya pas.

Meskipun ya … pas untuk Saya, sih. Tidak tahu untuk orang lain. Pft.

Rumus Menulis Bagus

Tidak ada rumusnya.

Ini serius.

Sub judul ini dibuat untuk menambah jumlah kata di posting ini saja. Wkwk.

Tapi ada sebuah cerita dari Novelis nomor wahid Indonesia, Habiburrahman El-Shirazy, ketika karya pertamanya Pudarnya Pesona Cleopatra diterima khalayak ramai.

habiburrahman el-shirazy pudarnya pesona cleopatra
sumber: kakakpintar.com

Ceritanya … beliau tidak pede dengan naskah buku tersebut sampai akhirnya ia membagikannya untuk dibaca oleh 100 orang kawannya.

Dari 100 orang itu, Saya lupa, kebanyakan bilang bahwa naskahnya bagus. Padahal Kang Abik, panggilan Habiburrahman El-Shirazy, tidak menilai bagus.

Jadi … kembali ke awal: tidak ada rumus menulis bagus. Sebab, buruk menurut kita belum tentu menurut orang lain.

Udah gitu aja.

Apa Komentarmu?